Mulai menulis itu susah, apalagi dengan keseharianku yang lebih banyak mengandalkan bahasa lisan, menulis seakan menjadi siksaan yang tak berujung. Suamiku tersayang, Uwie, mendorongku untuk memulai menulis. Menulis tentang apa saja. "Buatlah kerangka karangan" katanya. Waduh, waktu masih sekolah dulu, membuat kerangka karangan adalah bagian dari pelajaran Bahasa indonesia yang paling susah. Aku akan mengerjakannya dengan terpekur di depan buku sambil mengetuk-ngetukkan pulpen di atas meja maupun mulai memutar-mutar pulpen tersebut sambil pikiranku mengelana tanpa arah. Seperti sekarang. Ah, mungkin sekian dulu "tulisan" ini, semoga bisa menjadi awal dari tulisan-tulisanku selanjutnya.
Depan netbook, di sore yang berawan sehabis hujan, 28 januari 2014
~yoyol.